Tuesday, July 12, 2011

CINTA & COUPLE

Bismillahir rahma nirrahim...

Di sini saya hendak kongsi beberapa persoalan yang menjadi  tanda tanya @ buah mulut orang..Ramai yang tahu apa yang dimaksudkan dengan CINTA! dan saya rasa ramai orang tidak tahu apa yang dimaksudkan dengan perkataan COUPLE!..Saya bukan seorang yang pakar @ alim dalam bab ini, cuma saya hendak muzakarah dengan kawan2 atau erti kata lain, sharing.
   Ramai di antara kita bercakap, haram bercinta melainkan ada ikatan ( Tunang @ Suami Isteri ), ada juga kata " tidak apa, kita berkawan sahaja, bukan ada buat apa2 pun ". Bila kita dapat dua pendapat yang berbeza, selalunya kita akan fikir yang mana yang baik dan terbaik untuk kita. Dan ada juga sesetangah kawan2 tidak memikirkan yang mana boleh diikut ( dibuat ) dan yang mana tidak boleh diikut ( dibuat ). Bila kita cakap benda baik dan buruk, of course kita akan pilih baik. Ada ka kita hendak benda buruk?.
    Definisi CINTA di dalam Al Quran, disebut sebagai mahabbah @ mawaddah. Kedua-duanya memiliki erti yang sama iaitu menyukai, senang, dan menyayangi. Saya ambik sepotong ayat AlQuran, Allah swt berfirman yang bermaksud : 
    “Dijadikan indah dalam pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, iaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik (syurga).”   

    Dalam ayat ini mahabbah adalah suatu naluri yang Allah berikan kepada makhluk, dimiliki setiap manusia tanpa pengecualian ( baik manusia beriman maupun manusia durjana ).
    Adapun mawaddah dalam surah Maryam : 96
 
   “ Sesungguhnya orang-orang beriman dan beramal soleh, kelak Allah yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam hati mereka kasih sayang ” 

   Jadi mawaddah (kasih sayang) diberikan Allah sebagai hadiah atas keimanan, amal soleh manusia. Dipertegas lagi dalam surah Ar Rum : 21 
   “ Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah ia menciptakan untukmu dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” 

   Dalam ayat ini pun Allah menggambarkan ‘cenderung dan tenteram’ yang dapat diraih dengan pernikahan oleh masing-masing pasangan akan diberi hadiah (ja’ala) kasih sayang dan rahmat.
   Dalam fil gharibil Qur’an dijelaskan bahwa mahabbah sebuah cinta yang meluap-luap, bergejolak. Sedangkan mawaddah adalah cinta yang berupa angan-angan dan tidak akan teraih oleh manusia kecuali Allah menghendakinya, hanya Allah yang akan memberi cinta Nya kepada hamba yang dkehendakiNya. Allah yang akan mempersatukan hati mereka. Walaupun kamu belanjakan seluruh kekayaan yang ada di bumi, niscaya kamu tidak akan mendapatkan kebahagiaan cinta jika Allah tidak menghendakiNya. 
   Manakala definisi COUPLE  pula adalah dua, berduaan, pasangan, and etc. Dalam petikan sebelumnya Allah telah menyebutnya sebagai CINTA not COUPLE right? so we can think, di sini kita sudah nampak yang mana pro and cons. Adakah salah bercouple?. of course i say "yes". Adakah boleh bercinta?. and also i say "yes'. Bagi pendapat saya, kebiasaannya orang yang bercouple ni, akan chat @ message benda2 yang tidak mendatangkan faedah. Dan lebih lagi, ada yang ajak keluar bersama ( date ). Inikah dinamakan cinta?, Bagi pendapat saya. cinta adalah tanggungjawab. bermakna di sini. Kita bertanggungjawab ke atas pasangan kita, iaitu tanggungjawab ke atas agamanya, ilmunya, akhlaknya, auratnya dan yang paling penting adalah hatinya.Kata orang " Cinta itu buta ", sebab apa yang jadi buta? sebabnya adalah tidak ada tanggunjawab terhadap pasangangnya.
   Semua kawan2 kita bercinta dan ada juga bercouple. So, saya harap kita dapat pelihara agama kita, biarlah orang hendak cakap kita ni kolot and so on. Asalkan kita ada agama and akhlak, apa yang kita buat InsyaAllah Allah akan bantu kita.

   Ma`assalamah...

Saturday, June 25, 2011

Imam Malik R.A



Imam Al Ghazali, sebuah nama yang tidak asing di telinga kaum muslimin. Tokoh terkemuka dalam kancah filsafat dan tasawuf. Memiliki pengaruh dan pemikiran yang telah menyebar ke seantero dunia Islam. Ironisnya sejarah dan perjalanan hidupnya masih terasa asing. Kebanyakan kaum muslimin belum mengerti. Berikut adalah sebagian sisi kehidupannya. Sehingga setiap kaum muslimin yang mengikutinya, hendaknya mengambil hikmah dari sejarah hidup beliau.

Nama, Nasab dan Kelahiran Beliau
Beliau bernama Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Ath Thusi, Abu Hamid Al Ghazali (Lihat Adz Dzahabi, Siyar A’lam Nubala’ 19/323 dan As Subki, Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/191). Para ulama nasab berselisih dalam penyandaran nama Imam Al Ghazali. Sebagian mengatakan, bahwa penyandaran nama beliau kepada daerah Ghazalah di Thusi, tempat kelahiran beliau. Ini dikuatkan oleh Al Fayumi dalam Al Mishbah Al Munir. Penisbatan pendapat ini kepada salah seorang keturunan Al Ghazali. Yaitu Majdudin Muhammad bin Muhammad bin Muhyiddin Muhamad bin Abi Thahir Syarwan Syah bin Abul Fadhl bin Ubaidillah anaknya Situ Al Mana bintu Abu Hamid Al Ghazali yang mengatakan, bahwa telah salah orang yang menyandarkan nama kakek kami tersebut dengan ditasydid (Al Ghazzali).
Sebagian lagi mengatakan penyandaran nama beliau kepada pencaharian dan keahlian keluarganya yaitu menenun. Sehingga nisbatnya ditasydid (Al Ghazzali). Demikian pendapat Ibnul Atsir. Dan dinyatakan Imam Nawawi, “Tasydid dalam Al Ghazzali adalah yang benar.” Bahkan Ibnu Assam’ani mengingkari penyandaran nama yang pertama dan berkata, “Saya telah bertanya kepada penduduk Thusi tentang daerah Al Ghazalah, dan mereka mengingkari keberadaannya.” Ada yang berpendapat Al Ghazali adalah penyandaran nama kepada Ghazalah anak perempuan Ka’ab Al Akhbar, ini pendapat Al Khafaji.
Yang dijadikan sandaran para ahli nasab mutaakhirin adalah pendapat Ibnul Atsir dengan tasydid. Yaitu penyandaran nama kepada pekerjaan dan keahlian bapak dan kakeknya (Diringkas dari penjelasan pentahqiq kitab Thabaqat Asy Syafi’iyah dalam catatan kakinya 6/192-192). Dilahirkan di kota Thusi tahun 450 H dan memiliki seorang saudara yang bernama Ahmad (Lihat Adz Dzahabi, Siyar A’lam Nubala’ 19/326 dan As Subki, Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/193 dan 194).

Kehidupan dan Perjalanannya Menuntut Ilmu
Ayah beliau adalah seorang pengrajin kain shuf (yang dibuat dari kulit domba) dan menjualnya di kota Thusi. Menjelang wafat dia mewasiatkan pemeliharaan kedua anaknya kepada temannya dari kalangan orang yang baik. Dia berpesan, “Sungguh saya menyesal tidak belajar khat (tulis menulis Arab) dan saya ingin memperbaiki apa yang telah saya alami pada kedua anak saya ini. Maka saya mohon engkau mengajarinya, dan harta yang saya tinggalkan boleh dihabiskan untuk keduanya.”
Setelah meninggal, maka temannya tersebut mengajari keduanya ilmu, hingga habislah harta peninggalan yang sedikit tersebut. Kemudian dia meminta maaf tidak dapat melanjutkan wasiat orang tuanya dengan harta benda yang dimilikinya. Dia berkata, “Ketahuilah oleh kalian berdua, saya telah membelanjakan untuk kalian dari harta kalian. Saya seorang fakir dan miskin yang tidak memiliki harta. Saya menganjurkan kalian berdua untuk masuk ke madrasah seolah-olah sebagai penuntut ilmu. Sehingga memperoleh makanan yang dapat membantu kalian berdua.”
Lalu keduanya melaksanakan anjuran tersebut. Inilah yang menjadi sebab kebahagiaan dan ketinggian mereka. Demikianlah diceritakan oleh Al Ghazali, hingga beliau berkata, “Kami menuntut ilmu bukan karena Allah ta’ala , akan tetapi ilmu enggan kecuali hanya karena Allah ta’ala.” (Dinukil dari Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/193-194).
Beliau pun bercerita, bahwa ayahnya seorang fakir yang shalih. Tidak memakan kecuali hasil pekerjaannya dari kerajinan membuat pakaian kulit. Beliau berkeliling mengujungi ahli fikih dan bermajelis dengan mereka, serta memberikan nafkah semampunya. Apabila mendengar perkataan mereka (ahli fikih), beliau menangis dan berdoa memohon diberi anak yang faqih. Apabila hadir di majelis ceramah nasihat, beliau menangis dan memohon kepada Allah ta’ala untuk diberikan anak yang ahli dalam ceramah nasihat.
Kiranya Allah mengabulkan kedua doa beliau tersebut. Imam Al Ghazali menjadi seorang yang faqih dan saudaranya (Ahmad) menjadi seorang yang ahli dalam memberi ceramah nasihat (Dinukil dari Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/194).
Imam Al Ghazali memulai belajar di kala masih kecil. Mempelajari fikih dari Syaikh Ahmad bin Muhammad Ar Radzakani di kota Thusi. Kemudian berangkat ke Jurjan untuk mengambil ilmu dari Imam Abu Nashr Al Isma’ili dan menulis buku At Ta’liqat. Kemudian pulang ke Thusi (Lihat kisah selengkapnya dalam Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/195).
Beliau mendatangi kota Naisabur dan berguru kepada Imam Haramain Al Juwaini dengan penuh kesungguhan. Sehingga berhasil menguasai dengan sangat baik fikih mazhab Syafi’i dan fikih khilaf, ilmu perdebatan, ushul, manthiq, hikmah dan filsafat. Beliau pun memahami perkataan para ahli ilmu tersebut dan membantah orang yang menyelisihinya. Menyusun tulisan yang membuat kagum guru beliau, yaitu Al Juwaini (Lihat Adz Dzahabi, Siyar A’lam Nubala’ 19/323 dan As Subki, Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/191).
Setelah Imam Haramain meninggal, berangkatlah Imam Ghazali ke perkemahan Wazir Nidzamul Malik. Karena majelisnya tempat berkumpul para ahli ilmu, sehingga beliau menantang debat kepada para ulama dan mengalahkan mereka. Kemudian Nidzamul Malik mengangkatnya menjadi pengajar di madrasahnya di Baghdad dan memerintahkannya untuk pindah ke sana. Maka pada tahun 484 H beliau berangkat ke Baghdad dan mengajar di Madrasah An Nidzamiyah dalam usia tiga puluhan tahun. Disinilah beliau berkembang dan menjadi terkenal. Mencapai kedudukan yang sangat tinggi.

Pengaruh Filsafat Dalam Dirinya
Pengaruh filsafat dalam diri beliau begitu kentalnya. Beliau menyusun buku yang berisi celaan terhadap filsafat, seperti kitab At Tahafut yang membongkar kejelekan filsafat. Akan tetapi beliau menyetujui mereka dalam beberapa hal yang disangkanya benar. Hanya saja kehebatan beliau ini tidak didasari dengan ilmu atsar dan keahlian dalam hadits-hadits Nabi yang dapat menghancurkan filsafat. Beliau juga gemar meneliti kitab Ikhwanush Shafa dan kitab-kitab Ibnu Sina. Oleh karena itu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Al Ghazali dalam perkataannya sangat dipengaruhi filsafat dari karya-karya Ibnu Sina dalam kitab Asy Syifa’, Risalah Ikhwanish Shafa dan karya Abu Hayan At Tauhidi.” (Majmu’ Fatawa 6/54).
Hal ini jelas terlihat dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin. Sehingga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Perkataannya di Ihya Ulumuddin pada umumnya baik. Akan tetapi di dalamnya terdapat isi yang merusak, berupa filsafat, ilmu kalam, cerita bohong sufiyah dan hadits-hadits palsu.” (Majmu’ Fatawa 6/54).
Demikianlah Imam Ghazali dengan kejeniusan dan kepakarannya dalam fikih, tasawuf dan ushul, tetapi sangat sedikit pengetahuannya tentang ilmu hadits dan sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang seharusnya menjadi pengarah dan penentu kebenaran. Akibatnya beliau menyukai filsafat dan masuk ke dalamnya dengan meneliti dan membedah karya-karya Ibnu Sina dan yang sejenisnya, walaupun beliau memiliki bantahan terhadapnya. Membuat beliau semakin jauh dari ajaran Islam yang hakiki.
Adz Dzahabi berkata, “Orang ini (Al Ghazali) menulis kitab dalam mencela filsafat, yaitu kitab At Tahafut. Dia membongkar kejelekan mereka, akan tetapi dalam beberapa hal menyetujuinya, dengan prasangka hal itu benar dan sesuai dengan agama. Beliau tidaklah memiliki ilmu tentang atsar dan beliau bukanlah pakar dalam hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dapat mengarahkan akal. Beliau senang membedah dan meneliti kitab Ikhwanush Shafa. Kitab ini merupakan penyakit berbahaya dan racun yang mematikan. Kalaulah Abu Hamid bukan seorang yang jenius dan orang yang mukhlis, niscaya dia telah binasa.” (Siyar A’lam Nubala 19/328).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Abu Hamid condong kepada filsafat. Menampakkannya dalam bentuk tasawuf dan dengan ibarat Islami (ungkapan syar’i). Oleh karena itu para ulama muslimin membantahnya. Hingga murid terdekatnya, (yaitu) Abu Bakar Ibnul Arabi mengatakan, “Guru kami Abu Hamid masuk ke perut filsafat, kemudian ingin keluar dan tidak mampu.” (Majmu’ Fatawa 4/164).

Polemik Kejiwaan Imam Ghazali
Kedudukan dan ketinggian jabatan beliau ini tidak membuatnya congkak dan cinta dunia. Bahkan dalam jiwanya berkecamuk polemik (perang batin) yang membuatnya senang menekuni ilmu-ilmu kezuhudan. Sehingga menolak jabatan tinggi dan kembali kepada ibadah, ikhlas dan perbaikan jiwa. Pada bulan Dzul Qai’dah tahun 488 H beliau berhaji dan mengangkat saudaranya yang bernama Ahmad sebagai penggantinya.
Pada tahun 489 H beliau masuk kota Damaskus dan tinggal beberapa hari. Kemudian menziarahi Baitul Maqdis beberapa lama, dan kembali ke Damaskus beri’tikaf di menara barat masjid Jami’ Damaskus. Beliau banyak duduk di pojok tempat Syaikh Nashr bin Ibrahim Al Maqdisi di masjid Jami’ Umawi (yang sekarang dinamai Al Ghazaliyah). Tinggal di sana dan menulis kitab Ihya Ulumuddin, Al Arba’in, Al Qisthas dan kitab Mahakkun Nadzar. Melatih jiwa dan mengenakan pakaian para ahli ibadah. Beliau tinggal di Syam sekitar 10 tahun.
Ibnu Asakir berkata, “Abu Hamid rahimahullah berhaji dan tinggal di Syam sekitar 10 tahun. Beliau menulis dan bermujahadah dan tinggal di menara barat masjid Jami’ Al Umawi. Mendengarkan kitab Shahih Bukhari dari Abu Sahl Muhammad bin Ubaidilah Al Hafshi.” (Dinukil oleh Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 6/34).
Disampaikan juga oleh Ibnu Khallakan dengan perkataannya, “An Nidzam (Nidzam Mulk) mengutusnya untuk menjadi pengajar di madrasahnya di Baghdad tahun 484 H. Beliau tinggalkan jabatannya pada tahun 488 H. Lalu menjadi orang yang zuhud, berhaji dan tinggal menetap di Damaskus beberapa lama. Kemudian pindah ke Baitul Maqdis, lalu ke Mesir dan tinggal beberapa lama di Iskandariyah. Kemudian kembali ke Thusi.” (Dinukil oleh Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 6/34).
Ketika Wazir Fakhrul Mulk menjadi penguasa Khurasan, beliau dipanggil hadir dan diminta tinggal di Naisabur. Sampai akhirnya beliau datang ke Naisabur dan mengajar di madrasah An Nidzamiyah beberapa saat. Setelah beberapa tahun, pulang ke negerinya dengan menekuni ilmu dan menjaga waktunya untuk beribadah. Beliau mendirikan satu madrasah di samping rumahnya dan asrama untuk orang-orang shufi. Beliau habiskan sisa waktunya dengan mengkhatam Al Qur’an, berkumpul dengan ahli ibadah, mengajar para penuntut ilmu dan melakukan shalat dan puasa serta ibadah lainnya sampai meninggal dunia.

Masa Akhir Kehidupannya
Akhir kehidupan beliau dihabiskan dengan kembali mempelajari hadits dan berkumpul dengan ahlinya. Berkata Imam Adz Dzahabi, “Pada akhir kehidupannya, beliau tekun menuntut ilmu hadits dan berkumpul dengan ahlinya serta menelaah shahihain (Shahih Bukhari dan Muslim). Seandainya beliau berumur panjang, niscaya dapat menguasai semuanya dalam waktu singkat. Beliau belum sempat meriwayatkan hadits dan tidak memiliki keturunan kecuali beberapa orang putri.”
Abul Faraj Ibnul Jauzi menyampaikan kisah meninggalnya beliau dalam kitab Ats Tsabat Indal Mamat, menukil cerita Ahmad (saudaranya); Pada subuh hari Senin, saudaraku Abu Hamid berwudhu dan shalat, lalu berkata, “Bawa kemari kain kafan saya.” Lalu beliau mengambil dan menciumnya serta meletakkannya di kedua matanya, dan berkata, “Saya patuh dan taat untuk menemui Malaikat Maut.” Kemudian beliau meluruskan kakinya dan menghadap kiblat. Beliau meninggal sebelum langit menguning (menjelang pagi hari). (Dinukil oleh Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 6/34). Beliau wafat di kota Thusi, pada hari Senin tanggal 14 Jumada Akhir tahun 505 H dan dikuburkan di pekuburan Ath Thabaran (Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/201).

Saturday, April 16, 2011

Imam Syafi`i

Nama beliau ialah Muhammad bin Idris bin Al-‘Abbas bin ‘Uthman bin Shafi’ bin
Al-Saib bin ‘Ubaid bin Yazid bin Hashim bin ‘Abd al-Muttalib bin ’Abd Manaf bin
Ma’n bin Kilab bin Murrah bin Lu’i bin Ghalib bin Fahr bin Malik bin Al-Nadr bin
Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrakah bin Ilias bin Al-Nadr bin Nizar bin Ma’d bin
‘Adnan bin Ud bin Udad.
Keturunan beliau bertemu dengan titisan keturunan Rasulullah s.a.w pada ‘Abd
Manaf. Ibunya berasal dari Kabilah Al-Azd, satu kabilah Yaman yang masyhur.

Penghijrahan ke Palestine
Sebelum beliau dilahirkan, keluarganya telah berpindah ke Palestine kerana
beberapa keperluan dan bapanya terlibat di dalam angkatan tentera yang
ditugaskan untuk mengawal perbatasan Islam di sana.

Kelahiran dan Kehidupannya
Menurut pendapat yang masyhur, beliau dilahirkan di Ghazzah – Palestine pada
tahun 150 Hijrah. Tidak lama sesudah beliau dilahirkan bapanya meninggal
dunia. Tinggallah beliau bersama-sama ibunya sebagai seorang anak yatim.
Kehidupan masa kecilnya dilalui dengan serba kekurangan dan kesulitan.

PENGEMBARAAN IMAM AL-SHAFI’I

Hidup Imam As-Shafi’i (150H – 204H ) merupakan satu siri pengembaraan yang
tersusun di dalam bentuk yang sungguh menarik dan amat berkesan terhadap
pembentukan kriteria ilmiah dan popularitinya.

Al-Shafi’i di Makkah ( 152H – 164H )


Pengembaraan beliau bermula sejak beliau berumur dua tahun lagi (152H),
ketika itu beliau dibawa oleh ibunya berpindah dari tempat kelahirannya iaitu dari
Ghazzah, Palestine ke Kota Makkah untuk hidup bersama kaum keluarganya di
sana.
Di kota Makkah kehidupan beliau tidak tetap kerana beliau dihantar ke
perkampungan Bani Huzail, menurut tradisi bangsa Arab ketika itu bahawa
penghantaran anak-anak muda mereka ke perkampungan tersebut dapat mewarisi kemahiran bahasa ibunda mereka dari sumber asalnya yang belum lagi terpengaruh dengan integrasi bahasa-bahasa asing seperti bahasa Parsi dan sebagainya. Satu perkara lagi adalah supaya pemuda mereka dapat dibekalkan
dengan Al-Furusiyyah (Latihan Perang Berkuda). Kehidupan beliau di peringkat
ini mengambil masa dua belas tahun ( 152 – 164H ).Sebagai hasil dari usahanya, beliau telah mahir dalam ilmu bahasa dan sejarah di samping ilmu-ilmu yang berhubung dengan Al-Quran dan Al-Hadith. Selepas
pulang dari perkampungan itu beliau meneruskan usaha pembelajarannya
dengan beberapa mahaguru di Kota Makkah sehingga beliau menjadi terkenal.
Dengan kecerdikan dan kemampuan ilmiahnya beliau telah dapat menarik
perhatian seorang mahagurunya iaitu Muslim bin Khalid Al-Zinji yang
mengizinkannya untuk berfatwa sedangkan umur beliau masih lagi di peringkat remaja iaitu lima belas tahun.

Al-Shafi’i di Madinah ( 164H – 179H )


Sesudah itu beliau berpindah ke Madinah dan menemui Imam Malik. Beliau
berdamping dengan Imam Malik di samping mempelajari ilmunya sehinggalah
Imam Malik wafat pada tahun 179H, iaitu selama lima belas tahun.
Semasa beliau bersama Imam Malik hubungan beliau dengan ulama-ulama lain
yang menetap di kota itu dan juga yang datang dari luar berjalan dengan baik
dan berfaedah. Dari sini dapatlah difahami bahawa beliau semasa di Madinah
telah dapat mewarisi ilmu bukan saja dari Imam Malik tetapi juga dari ulama-
ulama lain yang terkenal di kota itu.

Al-Shafi’i di Yaman ( 179H – 184H )

Apabila Imam Malik wafat pada tahun 179H, kota Madinah diziarahi oleh
Gabenor Yaman. Beliau telah dicadangkan oleh sebahagian orang-orang
Qurasyh Al-Madinah supaya mencari pekerjaan bagi Al-Shafi’i. Lalu beliau
melantiknya menjalankan satu pekerjaan di wilayah Najran.
Sejak itu Al-Shafi’i terus menetap di Yaman sehingga berlaku pertukaran
Gabenor wilayah itu pada tahun 184H. Pada tahun itu satu fitnah ditimbulkan
terhadap diri Al-Shafi’i sehingga beliau dihadapkan ke hadapan Harun Al-Rashid
di Baghdad atas tuduhan Gabenor baru itu yang sering menerima kecaman Al-
Shafi’i kerana kekejaman dan kezalimannya. Tetapi ternyata bahawa beliau tidak
bersalah dan kemudiannya beliau dibebaskan.

Al-Shafi’i di Baghdad ( 184H – 186H )

Peristiwa itu walaupun secara kebetulan, tetapi membawa erti yang amat besar
kepada Al-Shafi’i kerana pertamanya, ia berpeluang menziarahi kota Baghdad yang terkenal sebagai pusat ilmu pengetahuan dan para ilmuan pada ketika itu.
Keduanya, ia berpeluang bertemu dengan Muhammad bin Al-Hassan Al-
Shaibani, seorang tokoh Mazhab Hanafi dan sahabat karib Imam Abu Hanifah
dan lain-lain tokoh di dalam Mazhab Ahl al-Ra’y.
Dengan peristiwa itu terbukalah satu era baru dalam siri pengembaraan Al-Imam
ke kota Baghdad yang dikatakan berlaku sebanyak tiga kali sebelum beliau
berpindah ke Mesir.
Dalam pengembaraan pertama ini Al-Shafi’i tinggal di kota Baghdad sehingga
tahun 186H. Selama masa ini (184 – 186H) beliau sempat membaca kitab-kitab
Mazhab Ahl al-Ra’y dan mempelajarinya, terutamanya hasil tulisan Muhammad
bin Al-Hassan Al-Shaibani, di samping membincanginya di dalam beberapa
perdebatan ilmiah di hadapan Harun Al-Rashid sendiri.

Al-Shafi’i di Makkah ( 186H – 195H )


Pada tahun 186H, Al-Shafi’i pulang ke Makkah membawa bersamanya hasil
usahanya di Yaman dan Iraq dan beliau terus melibatkan dirinya di bidang
pengajaran. Dari sini muncullah satu bintang baru yang berkerdipan di ruang
langit Makkah membawa satu nafas baru di bidang fiqah, satu nafas yang bukan
Hijazi, dan bukan pula Iraqi dan Yamani, tetapi ia adalah gabungan dari ke
semua aliran itu. Sejak itu menurut pendapat setengah ulama, lahirlah satu
Mazhab Fiqhi yang baru yang kemudiannya dikenali dengan Mazhab Al-Shafi’i.
Selama sembilan tahun (186 – 195H) Al-Shafi’i menghabiskan masanya di kota
suci Makkah bersama-sama para ilmuan lainnya, membahas, mengajar,
mengkaji di samping berusaha untuk melahirkan satu intisari dari beberapa aliran
dan juga persoalan yang sering bertentangan yang beliau temui selama masa
itu.

Al-Shafi’i di Baghdad ( 195H – 197H )


Dalam tahun 195H, untuk kali keduanya Al-Shafi’i berangkat ke kota Baghdad.
Keberangkatannya kali ini tidak lagi sebagai seorang yang tertuduh, tetapi
sebagai seorang alim Makkah yang sudah mempunyai personaliti dan aliran
fiqah yang tersendiri. Catatan perpindahan kali ini menunjukkan bahawa beliau
telah menetap di negara itu selama dua tahun (195 – 197H).
Di dalam masa yang singkat ini beliau berjaya menyebarkan “Method Usuli” yang
berbeza dari apa yang dikenali pada ketika itu. Penyebaran ini sudah tentu
menimbulkan satu respon dan reaksi yang luarbiasa di kalangan para ilmuan
yang kebanyakannya adalah terpengaruh dengan method Mazhab Hanafi yang
disebarkan oleh tokoh utama Mazhab itu, iaitu Muhammad bin Al-Hasan Al-
Shaibani. Kata Al-Karabisi : “Kami sebelum ini tidak kenal apakah (istilah) Al-Kitab, Al-
Sunnah dan Al-Ijma’, sehinggalah datangnya Al-Shafi’i, beliaulah yang
menerangkan maksud Al-Kitab, Al-Sunnah dan Al-Ijma’”.
Kata Abu Thaur : “Kata Al-Shafi’i : Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menyebut (di
dalam kitab-Nya) mengenai sesuatu maksud yang umum tetapi Ia menghendaki
maksudnya yang khas, dan Ia juga telah menyebut sesuatu maksud yang khas
tetapi Ia menghendaki maksudnya yang umum, dan kami (pada ketika itu) belum
lagi mengetahui perkara-perkara itu, lalu kami tanyakan beliau …”
Pada masa itu juga dikatakan beliau telah menulis kitab usulnya yang pertama
atas permintaan ‘Abdul Rahman bin Mahdi, dan juga beberapa penulisan lain
dalam bidang fiqah dan lain-lain.

Al-Shafi’i di Makkah dan Mesir ( 197H – 204H )


Sesudah dua tahun berada di Baghdad (197H) beliau kembali ke Makkah. Pada
tahun 198H, beliau keluar semula ke Baghdad dan tinggal di sana hanya
beberapa bulan sahaja. Pada awal tahun 199H, beliau berangkat ke Mesir dan
sampai ke negara itu dalam tahun itu juga. Di negara baru ini beliau menetap
sehingga ke akhir hayatnya pada tahun 204H.

Hukum Haid Dan Istihadhah

Hukum Haid & Istihadhah ada 2 iaitu a)Mubtadiah-perempuan yang pertama kali keluar haid...b)Mu`tadah-perempuan yang pernah keluar haid dan pernah bersuci..

Mubtadiah terbahagi kepada 2:-

a) Mumayyizah-darah yang keluar adalah dua sifat seperti darah haid dan istihadhah (dua warna).
b) Qaira mumayyizah-darah yang keluar itu adalah satu sifat sahaja (satu warna) dan hilang salah satu daripada syarat tamyiz

Syarat tamyiz ada empat :-

   1.darah yang keluar (haid) kurang dari sehari semalam..      2.darah yang keluar (haid) lebih dari 15 hari..     3.darah yang keluar (istihadhah) kurang dari kadar bersih (15 hari)..     4.darah istihadhah mesti keluar berterusan ( tidak putus-putus )...

Manakala Mu`tadah pula terbahagi kepada 2:-

a) Mumayyizah-dihukum bagi perempuan ini dengan tamyiz sekiranya (walaupun) bertentangan dengan adat ( dia tahu masa keluar haid dan tempoh berapa lama ) ,kerana tamyiz lebih kuat dari adat (hukum).
b) Qaira mumayyizah-terbahagi kepada 4 bahagian :-

1) Dia ingat waktu keluar haid dan tempoh haid dia (sekiranya ada darah keluar selepas dari tempoh tersebut maka dikira sebagai darah istihadhah.mengikut keluar haid pada sebelumnya)..

2) Dia lupa waktu keluar haid dan tempoh.orang ini dipanggil (kebingungan)..orang ini tidak boleh bercumbuan (dengan suami),membaca alquran,menetap di masjid,membawa mashaf dan menyentuhnya dan dilarang lalu di masjid sekiranya takut mengotorinya. Orang ini kena solat,puasa,tawaf,talaq,i`tikaf,dan kena basuh faraj sebelum melakukan solat (wuduk yang diambik dikira sebagai istibahatus solat (membolehkan solat),jadi dia tidak boleh melakukan apa2 melainkan solat sahaja sekiranya dia sudah berwuduk,sekiranya dia melakukan kerja lain,(maka batal wuduk dia).dalam bab puasa,dia kena puasa selama sebulan(bulan ramadhan),jadi pada bulan syawal(selepas raya posa pertama) dia kena sambung puasa(ganti) dia selama sebulan kerana ikut kadar lama haid adalah 15 hari dan kadar sikit suci (bersih) adalah 15 hari. Jadi puasa dia yang sah adalah 14 hari kerana haid dia yang keluar pada bulan Ramadhan adalah pada awal ramadhan (sebab kita tolak awal bulan (sehari sahaja) dan tengah bulan (sehari sahaja). Bulan syawal pun kiraannya sama dengan bulan ramadhan (14 hari sahaja yang sah puasa) Semua kiraannya adalah 28 hari sahaja yang sah puasanya,jadi ada 2 lagi baki puasanya.Dan teruskan puasa pada bulan Zulkaedah selama 2 hari berturut2   .(Syarat no 2 ini adalah berterusan puasanya).

3) Dia ingat tempoh haidnya,tapi tidak ingat waktu keluar haid....(puasa-sekiranya kadar haid dia adalah 5 pada 10 hari pada awal bulan,tapi dia tidak tahu waktu keluar haid. Jadi 5 hari haid dan 5 hari bersih. Maka pada hari keenam adalah hari dia haid dengan yakin. Dan awal bulan adalah hari dia bersih (suci) dengan yakin,dari hari kedua hingga kelima dan hari ketujuh hingga kesepuluh adalah muhtamil kal mutahayyarah ( kebinggungan ) jadi dalam sepuluh hari ini,puasa dia yang sah adalah 4 hari sahaja.maka dia kena ganti puasanya selama 6 hari lagi.

4. Dia ingat waktu keluar haidnya tetapi tidak ingat tempoh haidnya…..(puasa-sekiranya dia datang haid pada awal bulan dan tidak ingat tempohnya,maka haid keluar pada hari pertama dengan yakin,dan selepas 15 hari adalah yakin dia bersih(suci), dari hari kedua hingga hari kelima belas boleh dikatakan haid dan bersih(suci)

Thursday, April 14, 2011

Matan Safinatun Najah

Dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

Segala puji bagi Allah, Tuhan sekelian alam, dan kepada-Nya jualah kita memohon pertolongan atas segala perkara dunia dan akhirat.  Selawat serta salam-Nya kepada Saidina Muhammad SAW penutup para nabi, juga terhadap keluarga, serta sahabat baginda, dan tiada upaya kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Perkasa.

BAB : Aqidah

( Fasal ) Rukun Islam ada lima perkara :

-Bersaksi bahawa tiada tuhan yang disembah melainkan Allah, dan Nabi Muhammad SAW itu pesuruh Allah.
-Mendirikan solat ( lima waktu).
-Menunaikan zakat.
-Puasa di bulan ramadhan.
-Menunaikan haji ke Baitullah ( bagi sesiapa yang mampu).

( Fasal ) Rukun Iman ada enam perkara :

-Beriman kepada Allah SWT.
-Beriman kepada para Malaikat.
-Beriman dengan Kitab-Kitab Allah.
-Beriman dengan Rasul.
-Beriman dengan Hari Kiamat.
-Beriman dengan ketentuan baik dan buruk dari Allah SWT.

( Fasal ) Adapun erti  “ La ilaha illallah’’ : Tidak ada tuhan yang berhak disembah dalam kenyataan selain Allah.

BAB : Thaharah

( Fasal ) Tanda-tanda baligh ada tiga perkara :

-Lelaki dan perempuan yang cukup umur lima belas tahun.
-Bermimpi ( junub ) terhadap lelaki dan perempuan ketika melewati sembilan tahun.
-Keluar darah haidh sesudah umur sembilan tahun.

( Fasal ) Syarat boleh menggunakan batu untuk beristinjak ada lapan perkara :

-Menggunakan tiga batu.
-Mensucikan tempat keluar najis dengan batu tersebut.
-Najis tersebut tidak kering.
-Najis tersebut tidak berpindah.
-Tempat istijak tersebut tidak terkena benda yang lain sekalipun tidak najis.
-Najis tersebut tidak berpindah tempat istijak ( lubang kemaluan belakang dan kepala kemaluan depan ).
-Najis tersebut tidak terkena air.
-Batu tersebut suci.

( Fasal ) Rukun Wudhu  ada enam perkara :

-Niat.
-Membasuh muka.
-Membasuh kedua tangan hingga ke siku.
-Menyapu sebahagian kepala.
-Membasuh kaki.
-Tertib.

( Fasal ) Niat adalah menyengaja sesuatu ( perbuatan), disertai dengan perbuatannya. Tempatnya adalah hati dan lafaznya adalah sunnah, dan waktunya adalah ketika hendak membasuh sebahagian muka. Adapun tertib ialah tidak mendahulukan anggota lain terhadap anggota lain.

( Fasal ) Air terbahagi kepada dua : Air yang sedikit. Dan air yang banyak.
-Adapun air yang sedikit adalah air yang kurang dari dua qullah. Dan air yang banyak itu adalah air yang  sampai dua qullah dan lebih.
-Air yang sedikit akan menjadi najis dengan sebab tertimpa najis kedalamnya, sekalipun tidak berubah,  -Adapun air yang banyak tidak akan menjadi najis kecuali air tersebut telah berubah warna, rasa, dan baunya.

( Fasal ) Yang mewajibkan Mandi ada enam perkara :

-Memasukkan kemaluan ( kepala zakar ) kedalam faraj ( kemaluan prempuan ).
-Keluar air mani.
-Mati.
-Keluar darah haidh.
-Keluar darah nifas.
-Wiladah ( melahirkan anak ).

( Fasal ) Fardhu – Fardhu ( rukun ) Mandi  ada dua perkara :

-Niat mandi wajib.
-Meratakan air ke seluruh badan.

( Fasal ) Syarat – Syarat Wudhu ada sepuluh :

-Islam.
-Tamyiz.
-Suci dari haidh dan nifas.
-Tidak ada sesuatu yang menghalang air sampai ke kulit.
-Tidak ada sesuatu  di salah satu anggota wudhu yang merubah keaslian air.
-Mengetahui bahawa hukum wudhu adalah wajib.
-Tidak beri`tiqad bahawa salah satu fardhu-fardhu wudhu adalah sunnah ( tidak wajib ).
-Air yang bersih ( suci ).
-Masuk waktu solat.
-Muwalat.
 Dua syarat terakhir ini adalah bagi orang yang sentiasa berhadas ( da`im al-hadas ).

( Fasal ) Perkara-Perkara Membatalkan Wudhu ada empat :

-Apabila keluar sesuatu dari salah satu dari dua jalan ( qubul dan dubur ) seperti angin dan sebagainya, kecuali air mani.
-Hilang akal seperti tidur dan sebagainya, kecuali tidur dalam keadaan punggung yang tetap, sehinnga yakin tidak ada keluar angin ketika tidur tersebut.
-Bersentuhan antara kulit lelaki dan perempuan ( yang  besar ) yang bukan muhrim, dan tidak ada penghalang di antara kulit tersebut seperti kain  dan sebagainya.
-Menyentuh kemaluan orang lain atau dirinya sendiri atau menyentuh dubur ( halaqah dubur ) dengan tapak tangan atau tapak jari-jarinya.

( Fasal )
Larangan bagi orang yang berhadas kecil  ada tiga perkara :
-Solat fardhu mahupun sunnat.
-Thowaf.
-Menyentuh Al-Quran atau mengangkatnya.

Larangan bagi orang yang berhadas besar ( junub )  ada lima perkara :
-Solat.
-Thowaf.
-Menyentuh Al-Quran.
-Membaca Al-Quran.
-I`tikaf  di dalam masjid.

Larangan bagi perempuan yang sedang haidh dan nifas ada sepuluh perkara :
-Solat.
-Thowaf.
-Menyentuh Al-Quran.
-Membaca Al-Quran.
-Puasa.
-I`tikaf di dalam masjid.
-Masuk ke dalam masjid sekalipun hanya sekadar untuk melewati jika ia takut akan mengotori masjid     tersebut.
-Cerai.
-Membawa Al-Quran.
-Bercumbuan di antara pusat dan lutut.

( Fasal ) Sebab-sebab yang membolehkan tayammum ada tiga perkara :

-Tidak ada air untuk berwudhuk.
-Ada penyakit yang mengakibatkan tidak boleh menggunakan air.
-Ada air hanya sekadar untuk keperluan minuman manusia dan haiwan yang muhtaram.
-Adapun selain Muhtaram ada enam perkara :
-Orang yang meninggalakan solat wajib.
-Kafir harbiy ( yang boleh dibunuh ).
-Penzina Muhson ( yang pernah beraqad nikah yang sah ).
-Anjing liar ( tidak mentaati pemiliknya atau tidak boleh dipelihara ).
  Babi.

( Fasal ) Syarat-Syarat mengerjakan tayammum ada  sepuluh perkara :

-Menggunakan tanah.
-Tanah yang suci.
-Tanah yang tidak pernah dipakai sebelumnya ( untuk tayammum fardhu ).
-Tanah yang tidak bercampur dengan tepung dan seumpamanya.
-Berniat bahawa sapuan tersebut untuk dijadikan tayammum.
-Masuk waktu solat.
-Tayammum setiap kali solat fardhu tiba.
-Mengetahui arah kiblat.
-Menyapu dua tangan dan wajahnya dengan dua pukulan.
-Menghilangkan najis di badan.

( Fasal ) Rukun-Rukun Tayammum  ada lima :

-Memindahkan debu.
-Niat.
-Menyapu ke muka.
-Menyapu dua tangan hingga ke siku.
-Tertib antara dua sapuan.

( Fasal ) Perkara yang membatalkan tayammum  ada tiga :


-Semua yang membatalkan wudhu.
-Murtad.
-Waham adanya air ( syak ).

( Fasal ) Perkara yang menjadi suci yang asalnya najis ada tiga perkara :

-Khamar ( air yang diperah menjadi anggur ) apabila telah menjadi cuka.
-Kulit binatang yang telah disamak.
-Semua najis yang telah berubah menjadi binatang.


( Fasal ) Najis  terbahagi kepada tiga :

-Muqhallazoh ( najis besar ) iaitu anjing, babi atau yang lahir dari salah satunya.
-Mukhaffafah ( najis ringan ) iaitu air kencing bayi lelaki yang berumur kurang dari dua tahun dan tidak makan selain dari susu ibunya.
-Mutawassitoh ( najis sederhana ) iaitu semua najis selain dua yang atas.

( Fasal ) Cara-cara menyucikan najis :

Najis besar ( muqhollazah ), menyucikan dengan membasuh sebanyak tujuh kali, salah satunya menggunakan dengan tanah, setelah `ain ( benda ) najis  tersebut.
Najis ringan ( mukhaffafah ), menyucikan dengan memercikkan air secara menyeluruh dan menghilangkan `ayin najis tersebut.
Najis sederhana ( mutawassitoh ) terbahagi kepada dua bahagian :
`Ainyyah iaitu najis yang masih nampak warna, bau, atau rasanya, maka cara menyucikan najis ini dengan menghilangkan sifat najis yang masih ada.
Hukmiyyah iaitu najis yang tidak nampak warna, bau, dan rasanya, maka cara menyucikan najis ini, cukup dengan mengalirkan air pada benda yang terkena najis tersebut.

( Fasal )
Darah haidh yang keluar paling sedikit adalah sehari semalam. namun pada umumnya ( kebiasaannya) selama enam atau tujuh hari, dan tidak akan lebih dari lima belas hari. Paling sedikit masa suci antara dua haidh adalah lima belas hari, namun pada umumnya dua puluh empat atau dua puluh tiga hari, dan tidak terbatas untuk masa sucinya. Paling sedikit masa nifas dalah sekejap, pada umumnya empat puluh hari, dan tidak akan melebihi dari enam puluh hari.


BAB : SHALAT

( Fasal ) Uzur Solat :

1.       -Tidur.
2.       -Lupa.

( Fasal ) Syarat Sah Solat ada lapan :
  -Suci dari hadas besar dan kecil.
       -Suci pakaian, badan dan tempat dari najis.
3.       -Menghadap kiblat.
4.       -Menutup aurat.
5.       -Masuk waktu solat.
6.       -Mengetahui rukun-rukun solat.
7.       -Tidak meyakini bahawa di antara rukun-rukun solat adalah sunnah.
8.       -Menjauhi semua yang membatalkan solat.

Hadas ada dua :Hadas besar dan Hadas kecil.
-Hadas kecil adalah hadas yang mewajibkan seseorang untuk berwudhu, sedangkan hadas besar adalah yang mewajibkan seseorang untuk mandi.

Aurat ada empat :

1.       -Aurat semua lelaki ( merdeka atau budak ) dan hamba perempuan ketika solat adalah antara pusat hingga lutut.
2.       -Aurat perempuan merdeka ketika solat ialah seluruh badan kecuali muka dan tapak tangan.
3.       -Aurat perempuan merdeka dan budak lelaki yang ajnabi ( bukan muhrim ) ialah seluruh badan.
4.      - Aurat perempuan merdeka dan budak terhadap lelaki muhrimnya  dan perempuan iaitu antara pusat dan lutut.

( Fasal ) Rukun Solat ada tujuh belas :

  -Niat.
 -Takbiratul Ihrom (mengucapkan “Allahuakbar’’ ). 
  -Berdiri bagi yang mampu.
 -Membaca Alfatihah.
 -Ruku`.
 -Toma`ninah ( diam sebentar ).
 -I`tidal.
 -Toma`ninah.
 -Sujud.
 -Toma`ninah.
 -Duduk di antara dua sujud.
 -Toma`ninah.
 -Tasyahud akhir.
 -Duduk di waktu tasyahud.
 -Selawat.
 -Salam 
 - Tertib
.
( Fasal ) Niat ada tiga darjat :

1.       -Jika solat yang dikerjakan fardhu, diwajibkan niat qasdul fi`li ( mengerjakan solat tersebut ), ta`yin ( nama solat yang dikerjakan ), dan fardhiyah ( kefardhuannya ).
2.       -Jika solat yang dikerjakan solat sunah yang mempunyai waktu atau mempunyai sebab, diwajibkanlah niat mengerjakan solat tersebut dan nama solat yang dikerjakan seperti solat sunnah rawatib.
3.       -Jika solat tersebut adalah sunnah mutlaq ( tanpa sebab ), diwajibkan niat mengerjakan  solat tersebut saja.
Yang dimaksudkan dengan qasdul fi`li adalah aku berniat  sembahyang, dan yang dimaksudkan dengan ta`yin adalah seperti zuhur atau asar, adapun fardhiyah adalah niat fardhu.

( Fasal ) Syarat takbiratul ihram ada enam belas :

-Mengucapkan takbiratul ihram tersebut ketika berdiri  ( jika solat tersebut fardhu ). 
-Mengucapkan dengan bahasa arab. 
-Menggunakan lafaz Allah.
-Menggunakan lafaz akbar.
-Berurutan antara dua lafaz tersebut.
-Tidak memanjangkan huruf  “ Hamzah ‘’ dari lafaz “ Allah ‘’.
-Tidak memanjangkan huruf “ Ba ‘’ dari lafaz “ Akbar ‘’.
-Tidak mentasydidkan huruf “ Ba ‘’ dari lafaz “ Akbar ‘’.
-Tidak menambah huruf  “ Waw ‘’ berbaris atau tidak antara dua kalimat tersebut.
-Tidak menambah huruf “ Waw ‘’ sebelum lafaz “ Allah ‘’.
-Tidak berhenti antara dua kalimat sekalipun sebentar.
-Mendengarkan dua kalimat tersebut.
-Masuk waktu solat tersebut jika mempunyai waktu.
-Mungucapkan takbiratul ihram  ketika menghadap kiblat.
-Tidak tersalah dalam mengucapkan salah satu dari huruf kalimat tersebut.
-Takbiratul ihram ma`mum sesudah takbiratul ihram dari imam.